Ini Beberapa Stasiun KRL di Jabodetabek yang Kerap Dianggap Angker

Story, *20 Dilihat

Di balik hiruk pikuk perjalanan harian, jaringan KRL Jabodetabek menyimpan banyak cerita yang beredar dari mulut ke mulut. Bukan soal keterlambatan atau kepadatan penumpang, melainkan kisah-kisah sunyi yang muncul ketika malam semakin larut. Sejumlah stasiun KRL kerap disebut “angker”, bukan karena bukti resmi, tetapi karena pengalaman personal, cerita petugas, dan imajinasi kolektif para pengguna.

Cerita-cerita ini hidup berdampingan dengan aktivitas transportasi modern—hadir sebagai bisik-bisik, bukan fakta.

Stasiun Manggarai: Persimpangan yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur

Sebagai salah satu stasiun tersibuk di Indonesia, Manggarai jarang sepi. Namun justru di sela-sela waktu pergantian jadwal, muncul cerita tentang suara langkah di lorong kosong atau perasaan “diawasi” saat berdiri sendirian di peron lama.

Sebagian orang mengaitkannya dengan sejarah panjang stasiun ini sebagai simpul transportasi sejak era kolonial. Kompleksitas jalur, bangunan lama, dan aktivitas hampir 24 jam menciptakan suasana yang bagi sebagian penumpang terasa berbeda saat malam.

Stasiun Jakarta Kota: Bangunan Tua dan Imajinasi yang Bekerja

Arsitektur klasik Stasiun Jakarta Kota sering menjadi latar cerita misteri. Bangunan berusia puluhan tahun ini dianggap menyimpan “kesan masa lalu” yang kuat. Penumpang malam hari kerap bercerita tentang suasana peron yang terasa lebih sunyi dari biasanya, meski lampu menyala terang.

Cerita yang beredar biasanya berkaitan dengan penampakan samar atau bayangan di sudut bangunan. Namun bagi banyak orang, suasana tersebut lebih mencerminkan efek psikologis berada di bangunan tua yang hening.

Stasiun Sudirman Lama: Sepi di Tengah Kota

Berada di pusat kota, Stasiun Sudirman justru sering disebut memiliki aura berbeda ketika jam operasional menurun. Beberapa pengguna mengaku merasakan hawa dingin yang tidak biasa atau melihat sosok berdiri di ujung peron, yang kemudian menghilang saat didekati.

Kisah-kisah ini sering muncul dari penumpang yang menunggu KRL terakhir, ketika keramaian Jakarta mulai surut.

Stasiun Duri: Cerita Penumpang dan Petugas Malam

Stasiun Duri juga kerap masuk daftar stasiun yang dianggap angker oleh sebagian pengguna. Cerita yang beredar biasanya datang dari pengalaman petugas jaga malam—tentang suara panggilan atau bayangan di area yang seharusnya kosong.

Meski demikian, tidak ada catatan resmi yang membenarkan hal tersebut. Cerita ini hidup sebagai bagian dari folklore urban yang berkembang seiring waktu.

Antara Cerita dan Realitas

Anggapan angker pada stasiun-stasiun KRL umumnya lahir dari kombinasi sejarah bangunan, keheningan malam, kelelahan fisik, dan imajinasi manusia. Dalam konteks transportasi publik, cerita-cerita ini lebih berfungsi sebagai kisah pengiring perjalanan, bukan sebagai kebenaran yang dapat diverifikasi.

Di siang hari, stasiun-stasiun tersebut kembali menjadi ruang publik yang sibuk, terang, dan sepenuhnya rasional.

Ulasan AI

Artikel ini mengangkat persepsi publik tentang beberapa stasiun KRL di Jabodetabek yang kerap dianggap angker sebagai fenomena budaya urban. Ulasan disajikan secara deskriptif dan netral, tanpa menguatkan atau menolak kebenaran cerita yang beredar.

Tinggalkan Balasan